Indah Tapi Menyebalkan
Dulu Aku selalu membayangkan winter season itu sangat menyenangkan. Pake jaket tebal, scraf, kupluk, penutup telinga, sarung tangan, and asesoris lainnya. Yang kelihatannya keren benerrr!!! Dan winter time adalah saatnya bermain dengan bola salju. Pokoknya musim salju saat-saat yang indah. Membayangkan bisa main ski or ice skaiting. Memang indah menikmati setiap "lembar'' salju yang melayang and perlahan jatuh ke bumi. Dan Aku sangat menikmati tiap detik moment seperti itu. Apalagi mengingat di Jakarta gak ada geto lho yang namanya salju......hehehe........
Sebenarnya bukan pilihan yang tepat untuk datang ke Belanda pada saat Winter. Namun alasan pekerjaan dan opendag lah yang membuatku harus berangkat di saat winter. Sejujurnya Aku tidak kuat dingin. Dan benar saja ketika untuk pertama kali menginjakkan kaki di Schipol airport, Amsterdam jam 6 pagi langsung saja badanku bereaksi. Badan ini langsung menggigil, badan terasa sakit yang sakitnya sampai ke tulang, Muka pun terasa baal (mati rasa). Hingga kepulanganku pun, Aku masih belum bisa beradaptasi dengan rasa dingin ini. Jangankan Aku, teman-temanku yang lahir dan besar di negara 4 musim selalu berteriak ketika winter tiba. "I hate winter, i hate snow. Aku rindu Indonesia," begitu kira-kira ucapan Mereka.
Jika Kita memandangi salju turun, indah banget. Tuhan hebat yah? bisa menciptakan salju yang indah ini. Kalau salju sudah turun, tanpa diiringi hujan dan angin, asyik deh karena udaranya jadi tidak terlalu dingin. Mungkin karena temperatur stabil, jadi udara dinginnya terasa sejuk. Tidak membuat badan menggigil or badan terasa ngilu. Pernah suatu hari, Aku memberanikan diri keluar hanya dengan jeans dan sweater yang tidak terlalu tebal. Hasilnya??? Wuihhh...menyenangkan sekali bisa bebas dari himpitan jaket biruku yang tebal itu. Tapi tentunya hanya sebentar saja.......hehehe.......
Salju yang berwarna putih bersih (jika belum terkontaminasi) dan halus. Bagi yang belum pernah melihat atau menyentuh salju, bisa membayangkan serutan es cendol di Jakarta. Namun butirannya lebih halus. Bagi anak-anak, turunnya salju adalah saatnya bermain. Mereka bisa dengan bebas melempar salju ke arah temannya, atau melempar ke jendela rumah orang lain. Eit...ini sudah tradisi, jadi tidak boleh marah. Lagi pula dengan bola salju, tidak serta merta membuat jendela or kaca rumah jadi pecah. Kecuali, di dalam bola salju ada batunya.....hehehe........
Tapi ada hal yang menarik, sekaligus miris, tentang lempar melempar bola salju. Tahun lalu seorang anak kulit hitam, Sedar Soares, dengan riangnya bermain bola salju. Lempar sana, lempar sini dan tak sengaja lemparan terakhirnya mengenai sebuah mobil yang melintasi salah satu wilayah di Rotterdam (Aku lupa nama daerahnya). Entah apa masalah yang sedang dialami pria pengendara mobil itu, sehingga lemparan bola salju anak berusia 11 tahun itu ditanggapi dengan sangat emosi. Pria itu langsung keluar dari mobil dan menusuk bocah kecil itu. Oh my God.....hanya karena satu lemparan bola salju, nyawanya hilang? Mungkin tak pernah terlintas dibenak bocah malang itu, hidupnya akan berakhir setragis itu dan sesingkat itu di usianya yang sangat muda. Dan untuk kesalahan seremeh itu? But menurutku itu bukan kesalahan. Bermain adalah dunia anak-anak, dan setiap anak ''wajib'' untuk bermain dan bergembira.
Seperti halnya Jumát kemarin (4/3) Aku melempar bola salju kepada dua orang anak kecil yang tidak Aku kenal. Dan melempar ke jendela rumah orang. Tapi mereka tahu, itu tanda kita mengajak bermain. Yeah jika tidak ingin bermain, yah tidak usah dibalas lemparan itu. Selesaikan? And sekarang Pria sadis itu menerima ganjarannya, dihukum 15 tahun penjara. But menurutku itu tetap tidak setimpal, secara dia menghilangkan nyawa orang lain. Bagiku Tuhan lah yang berhak mengakhiri hidup manusia.
Berjalan di atas salju juga harus berhati-hati, jika tidak ingin terpeleset. Dan hal ini Aku alami sendiri. Kamis lalu (3/3), dalam perjalanan pulang ke Belanda, tepatnya di Belgia, Ketika Aku ingin pipis di sebuah toilet di pinggir jalan tol, Aku terpeleset. Dan terpelesetnya bukan seperti terpeleset kulit pisang. Tapi ini sampai Jatuh bangun Aku mengerjarmu......hehehe....... Gila kan??!!! Hingga my elbow sampai melintir sedemikian rupa. Adohhhhh.............Suakitnyaaaaa minta ampun deh!!! Mau nangis rasanya. So alhasil balik ke Rotterdam sambil meringis-ringis. Duh, kalau Aku di Jakarta pasti langsung ke rumah Ibu Ayu deh. Ibu ku yang baik hati. Yang sangat-sangat pandai mengurut. Di tangan Ibu Ayu pasti siku ku dah sembuh deh. Tapi di sini, mau diurut ama siapa? Yeah mungkin ajah ada Sinse, tapi YAKIN banget pasti harganya muahal sekale. So Aku harus menahan sakit ini sampai Aku kembali. Tentu saja, sambil menunggu Aku berusaha latih terus agar tidak kaku.
Hiks....memang susyeh yeh hidup di negeri orang??!!!
Hal lain, yang tidak menyenangkan dengan turunnya salju adalah tidak beroperasinya Bus. Jelas ini bikin senewen, karena sudah lama menunggu tapi Bus tak kunjung tiba. Memang, jika saljunya sudah terlalu banyak or tinggi membuat kendaraan susah untuk berjalan. Demi menghindari kecelakaan dan juga macet, maka "para Bus" tidak beroperasi. Tinggal para pengguna Bus yang harus manyun, sebab harus berjalan menuju tempat tujuan atau menggunakan transportasi lain, seperti subway.
Salju memang banyak menyebabkan kecelakaan. Tak sedikit kasus kecelakaan terjadi pada musim ini. Rata-rata disebabkan karena licin, terlalu kencang melaju sehingga terpeleset. Or kecelakaan beruntun. Nah karena menghindari terpeleset, maka mobil melaju dengan perlahan. Dan hal ini, tentu saja, menyebabkan kemacetan. Apalagi pada jam-jam sibuk, pagi dan sore hari.
Ditaburi Garam
Saat menuju rumah Opa, mataku terpaku pada sebuah bangunan berbentuk lucu. Kalau tidak salah berwarna hijau. Kecil dan menarik. Ketika Ku tanya, ternyata itu tempat menyimpan garam. Garam??? "Iyah, garam untuk mencairkan salju," begitu kata Kees. Jadi, ketika salju mulai banyak dan menutupi jalan. Maka petugas yang bersangkutan akan menebar garam ke jalanan. Sehingga para pengendara tidak perlu kesulitan mengendarai mobilnya. Hanya cukup berhati-hati.
Karena tidak pernah melihat kegiatan ini, maka Aku senang banget ketika melihat ada mobil pengangkut garam. Sambil melaju perlahan, dua petugas dengan sekop di tangan mulai membuang garam sedikit demi sedikit. Dan salju pun mulai mencair pelahan. Seru yah??? Eh btw, kalau saljunya sampai menggunung begitu, berapa banyak garam yang harus di sebar yah???
